Pawai siswa-siswi SD Al Wathoniyah 9 menyambut Tahun Baru Islam

Perayaan 1 Muharram jelas dimulai setelah agama Islam masuk ke Bima, dibawa oleh dua penganjur agama Islam dari Gowa dan Luwu, Datuk Ribandang dan Datuk Ritiro yang juga membantu Sultan Abdul Kahir dalam mengatasi kemelut politik di Kesultanan Bima. Menurut Hilir Ismail ( Peran Kesultanan Bima dalam Perjalanan Sejarah Nusantara, 2004:64, Penerbit Lengge, Mataram), kedua datuk yang datang dari Gowa tersebut ingin mewujudkan persatuan berdasarkan ukhuwah Islamiah. Agama Islam disebarkan ke pelosok Bima dan tidak mengalami kesulitan diterima oleh rakyat, karena dianggap tidak bertentangan dengan adat sejak zaman pemerintahan Ncuhi (masa pemerintahan sebelum kesultanan/kerajaan). Kedatangan kedua penganjur Islam itu diperkirakan terjadi pada abad XVII, sehingga disebutkan rakyat Bima mulai memeluk agama Islam sekitar tahun 1604. Meskipun data lain menyebutkan, orang Bima sudah memeluk agama Islam pada tahun 1500-an.

Menurut Hilir Ismail, mengutip Salim A. Harahap (Sejarah Penyiaran Islam di Asia Tenggara, tanpa tahun dan penerbit), penyebaran agama Islam ke Bima tidak dapat dipisahkan dengan masa masuknya agama Islam ke Pulau Sumbawa angtara tahun 1540-1550 yang dibawa oleh mubalig dari Demak Demak di bawah Sunan Giri merupakan pusat penyiaran agama Islam di Jawa pada masa itu.

Iring-iringan siswa-siswi SD Al Wathoniyah 9 memulai acara pawai menyambut tahun baru islam, “ini bukan kali pertama kita melaksanakan syiar pawai keliling membawa spanduk, hadroh, drumband, menggemakan takbir. sudah menjadi agenda rutin kami melaksanakan kegiatan ini menyambut tahun baru islam, mengajarkan sedari awal kepada para anak didik kami tentang tahun baru islam.” tutur M. Akhsan, S.Ag Kepala SD Al Wathoniyah 9.

 

Facebook Comments