Pokok Pikiran R.A Kartini tentang Pendidikan

Riwayat dan proses kependidikan R.A Kartini cukup unik dan sangat menarik, walaupun hanya dalam waktu singkat, selama periode Politik Balas Budi (Ethical Policy) dalam pemerintahan ;kolonial Belanda. Beliau adalah salah satu pemikir pendidikan, tidak saja bagi kaum wanita tetapi juga kaum pria. Terdapat banyak ketidaktepatan terhadap sosok Kartini sebagai pemikir unggul dalam konsep pendidikan. Selama ini pemahaman umum dan dangkal, perjuangan hidup dan kependidikannya terbatas hanya pada perjuangan emansipasi saja, sebatas dan semacam woman liberation. Atas dasar bukti tertulis dan historis, beliau sudah memiliki konsep dan pokok pikiran pendidikan yang ternyata mendahului jamannya. Pokok pikiran itu antara lain tentang pendidikan kecerdasan hidup (life skill education), pendidikan nilai (values education), pendidikan multikultural (multikcultural education), pendidikan bahasa dalam arti luas, pendidikan kesejahteraan keluarga (PKK), dan pendidikan kebangsaan. Pikiran-pikiran pokok Kartini di berbagai ranah kehidupan (walk of life) secara lugas dan jelas diartikulasikannya melalui surat-surat pribadi beliau ke berbagai pihak. Tidaklah keliru apabila ada penelitian menyeluruh dan mendalam terhadap karya tulis R.A Kartini yang ternyata mengandungi berbagai bidang, antara lain, pendidikan, bahasa, kebudayaan, filsafat, dan religiositas.

Kegelisahannya terhadap situasi sosial, adat, dan kultur yang membelenggu kaum bumiputra untuk mendapatkan pendidikan layak ia ungkapkan dalam surat-surat yang ia kirim kepada sahabatnya di Belanda, Nyonya Abendanon. Dalam salah satu suratnya, ia utarakan tentang pendidikan sebagai kewajiban yang mulia dan suci.

Kartini berpandangan, merupakan kejahatan apabila dirinya sebagai pendidik tidak memiliki kecakapan penuh sebagai pendidik. Maksudnya, seorang pendidik yang baik seharusnya berintrospeksi diri terlebih dahulu apakah dirinya memiliki kemampuan sebagai pendidik. Kemampuan pendidik tidak hanya profesi, tetapi juga kecakapan moral spiritual.

Jika seorang pendidik memiliki kemampuan kognitif, sekaligus kecakapan spiritual, akan menghasilkan peserta didik yang cerdas dalam pengetahuan dan saleh dalam perbuatan. Dalam bahasa Kartini, tujuan pendidikan tidak hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga menghasilkan pendidikan budi dan jiwa.

Kartini berharap, manusia bumiputra yang diinginkan dalam proses pendidikan menjadi individu yang memiliki kecerdasan akal dan keluhuran budi pekerti. Dalam bahasa konstitusi kita yang tertulis di Pasal 31 ayat 3 UUD Negara RI tahun 1945 dinyatakan, “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang.”

Ini berarti, pemikiran pendidikan Kartini telah melampaui zamannya. Dalam usia 12 tahun, Kartini muda sudah mampu memformulasikan gagasan pendidikan secara filosofis dan sosiologis. Ketika kaumnya sedang terimpit oleh adat yang kolot dan bangsanya terbelenggu rantai kebodohan, ia tuangkan kegelisahannya dalam lembaran surat kepada sahabatnya di Belanda.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *